Senin, 23 Oktober 2017

Alur takdir

Assalamu'alaikum wr.wb

Takdir. Setiap makhluk hidup memiliki takdir sendiri sejak dilahirkan ke muka bumi sampai makhluk tersebut meninggal. Semua takdir makhluk tersebut dan tercipta dan tertulis. 

Ketika alur takdir tersebut sudah ditetapkan maka apapun usaha untuk mengubahnya, sekeras apapun usah akan berputar ke hasil itu-itu aja. Maka sebagai makhluk bersikap dengan menerima takdir tersebut dengan ikhlas dan ridha.

Tidak ada takdir jelek yang didapatkan oleh makhluknya melaikan itu adalah pembelajaran oleh Sang Maha Pencipta atas keimanan hambaNya. Tapi kebanyakan orang, mengeluhkan takdir yang mereka peroleh sehingga menyebabkan mereka stress, menimbulkan penyakit hati lainnya.

Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepadaNya siang dan malam. Dan ujiannya bisa kesenangan, sakit, kebahagiaan, harta , tahta, wanita. Jadi jangan pernah mengeluhkan takdir yang ada sekarang. Jalankan takdir tersebut dan selalu minta petunjuk kepada Maha Pencipta.

Wassalam

Minggu, 22 Oktober 2017

Mulut Mu Harimau Mu

FIRST SAFETY
             

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasannya Rasul SAW bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam [HR Bukhari]

Penjelasan

 “Safety First” (utamakan selamat) adalah semboyan yang sering kita temui terdapat di papan perusahaan atau di belakang bak truk. Semboyan ini lazim dipahami dalam keselamatan kerja guna mewujudkan slogan berikutnya “Zero Accident” (Nihil kecelakaan) yakni dalam mengerjakan suatu pekerjaan diupayakan tidak menyebabkan kecelakaan baik diri sendiri maupun orang lain.

Kalo kita sadari bahwa keselamatan tidak hanya dibutuhkan dalam ruang lingkup pekerjaan semata, namun keselamatan senantiasa dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari baik ketika bekerja, beristirahat maupun ketika bermasyarakat. Bahkan “Mengutamakan kesalamatan” tidak hanya dalam urusan duniawi namun juga ukhrawi. Itulah kiranya mengapa slogan “Safety first” menjadi penting untuk diterapkan dalam kehidupan kita.

Membicarakan “safety first” (Utamakan selamat) tak terlepas dari “first safety” (keselamatan pertama). Faktor penentu keselamatan yang utama adalah menjaga lisan (mulut/perkataan). Sayyidina Ali KW berkata :

سَلَامَةُ اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
Keselamatan seseorang itu terdapat dalam menjaga ucapannya [Al-Yusi, Al-Muhadlarat fi Al-Lughat wa al-Adab]

Keselamatan karena menjaga lisan tidak hanya keselamatan di dunia namun juga di akhirat dengan memperoleh surga sebagaimana hadits :

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (maksudnya: mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya (maksudnya: kemaluan), niscaya aku menjamin surga baginya [HR Bukhari]

Suatu ketika, Nabi SAW berkata kepada Mu’adz bin Jabal RA :
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا
“Jagalah (kekanglah) lisanmu ini.”
Maka Mu’adz RA berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟
“Wahai Rasul, apakah kita akan disiksa gara-gara ucapan-ucapan kita?”
Maka, Rasul SAW menjawab:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“ingatlah wahai muadz, tidaklah manusia dimasukkan neraka (dengan diseret) wajah atau (lubang) hidungnya melainkan karena hasil dari perkataan-perkataan mereka” [HR Tirmidzi]

Menguatkan hal ini, Sayyidina Ali KW berkata:
آفَةُ الْإِنْسَانِ مِنَ اللِّسَانِ
Kecelakaan seseorang berasal dari ucapannya [Al-Yusi, Al-Muhadlarat fi Al-Lughat wa al-Adab]

Maka hendaknya setiap kita memperhatikan pembicaraan kita, karena hal itu akan menentukan selamat atau celaka, sukses atau gagal. Tak terkecuali dalam dunia pemasaran, berbicara (Komunikasi) merupakan faktor penentu apakah sebuah produk dapat diterima pasar atau tidak. Begitu pula dalam rumah tangga,

 Wonderful Family, mengungkapkan bahwa 70% persoalan suami istri dipicu oleh kegagalan pembicaraan (komunikasi).

Ada beberapa prinsip qaul (berbicara) dalam al-qur’an. Berikut saya sebutkan sesuai urutan ayatnya :


1. Qaulun Ma'ruf yang artinya Perkataan Yang Baik.

Allah swt berfirman :
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. [QS. Al Baqarah : 263]

2. Qaulan Sadida yang artinya Perkataan Yang Benar,  Allah SWT berfirman :
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh

sebab itu hendaklah

mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. [QS. An Nisa : 9]

3. Qaulan Baligha yang artinya Perkataan Yang Membekas di Jiwa.

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. [QS. An Nisa : 63]

4. Qaulan Karima yang artinya Perkataan Yang Penuh Hormat (kepada orang tua, guru, penguasa, dll)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia [QS. Al Isra : 23].

5. Qaulan Maysura yang artinya Perkataan Yang Mudah atau ringan (mudah dimengerti lawan bicara misalnya dari aspek pendidikan dan mudah diterima oleh perasaan saat dialog berlangsung, dll).

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang mudah [QS. Al Isra : 28].

6. Qaulan Layyina yang artinya Perkataan Yang Lembut (tidak emosi dan tidak disertai hardikan terutama dalam mengingatkan penguasa atau guru yang lalai),
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." [QS. Thaha : 44]

Jika seseorang tidak bisa memenuhi enam prinsip qaul di atas maka hendaknya dia menutup mulutnya rapat-rapat sebagaimana hadits utama di atas.

 Senada dengan hadits tersebut, dalam pepatah arab dikatakan :
أَحَقُّ شَيْءٍ بِسجْنٍ لِسَانٌ
Sesuatu yang paling berhak untuk ditahan adalah mulut [Abu Hilal Al-Askari, Jamharat al-Amtsal]

Dengan demikian kita akan selamat.
Wallahu A’lam.

Semoga Allah al-Bari menjadikan kita bisa memenuhi enam prinsip qaul di atas atau kuat untuk menahan mulut dari berbicara yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Narasumber
Dr KH Fathul Bari

Inspiratif

Saya menunggu dalam antrean untuk naik taksi di bandara Dubai. Ketika taksi berhenti, hal pertama yang saya perhatikan adalah bahwa taksi itu begitu bersih dan mengkilap.

Sang supir berpakaian kemeja putih, dasi hitam, dan celana panjang hitam melangkah keluar dari mobil untuk membuka pintu bagi saya.

Dia menyerahkan kartu laminasi dan berkata, "Saya Abdul".

"Sementara saya manaruh tas Anda di bagasi ... saya ingin Anda untuk membaca pernyataan misi saya."

"PERNYATAAN MISI" :
"Untuk mengantarkan penumpang ke tujuan mereka dengan tercepat, teraman dan termurah dan menciptakan lingkungan yang ramah."

Setelah saya baca dan saya duduk di belakang,

Abdul mengatakan,
"Apakah Anda ingin secangkir kopi?
Saya memiliki termos dan satu kopi tanpa kafein."

Saya  bergurau,
"Tidak, saya lebih memilih minuman dingin."

Abdul tersenyum dan berkata,
"Tidak ada masalah..."

"Saya memiliki pendingin yang berisi reguler dan Diet Coke, lassi, air dan jus jeruk."

Hampir gugup, saya berkata,
"Saya mau Lassi."

Sambil menyodorkan minuman permintaan saya,
Abdul mengatakan...
"Jika Anda ingin sesuatu untuk dibaca, saya memiliki The NST, Star dan Sun Today."

Kemudian Abdul menyerahkan kartu lain :
"Jika ingin mendengarkan radio dan musik."

Sepertinya belum cukup, Abdul berkata kepada saya dan bertanya apakah suhu AC nya nyaman bagi saya.

Kemudian ia menyarankan saya rute terbaik ke tujuan saya untuk hari itu.

Dia juga memberitahu saya bahwa ia akan senang untuk ngobrol dan memberitahu saya tentang beberapa pemandangan atau tempat-tempat menarik lainnya.

Saya berkata,
"Saya kagum dan bertanya,' apakah kau selalu melayani penumpang seperti ini?"

Abdul tersenyum ke kaca spion,
"Tidak, tidak sebelumnya..."
"Bahkan, sejujurnya ini saya lakukan dalam dua tahun terakhir".

"Selama lima tahun pertama saya bekerja sebagai supir, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengeluh seperti semua sopir taksi lainnya".

"Lalu suatu hari saya mendengar sebuah cerita tentang" :

"KEKUATAN PILIHAN".

Kekuatan pilihan bahwa Anda bisa memilih menjadi BEBEK atau ELANG

"Jika Anda bangun di pagi hari dan terus mengeluh..."
Anda akan mengecewakan diri sendiri dan juga orang disekitar anda...

"BERHENTILAH MENGELUH!"

"Jangan jadi BEBEK  tetapi Jadilah ELANG".
"BEBEK hanya mengeluh".
"ELANG terbang tinggi di atas.."

"Selama ini saya selalu mengeluh, jadi saya memutuskan untuk mengubah sikap saya dan menjadi ELANG".

"Aku melihat sekeliling, banyak Taksi yang kotor, driver yang tidak ramah, dan pelanggan yang tidak bahagia".

"Maka saya memutuskan untuk membuat beberapa perubahan, perlahan-lahan ... bertahap namun pasti".
"Ketika pelanggan saya merespon dengan baik, saya mengulanginya lagi."

"Tahun pertama saya sebagai ELANG, saya mendapatkan penghasilan dua kali lipat dari tahun sebelumnya".

"Tahun ini penghasilan saya naik empat kali lipat..."

"Pelanggan saya selalu menelepon saya untuk menjemputnya kembali."

Abdul membuat pilihan yang berbeda...
Dia memutuskan untuk berhenti menjadi BEBEK dan mulai terbang seperti ELANG.

Mulailah menjadi ELANG hari ini ... satu langkah kecil setiap hari, setiap minggu..
Dan selanjutnya ...
Dan selanjutnya ....

Perbaikilah diri sendiri dan kemampuan Anda dengan cara yang berbeda.

🦅Jadilah ELANG, bukan BEBEK 🦆

Mengeluh atau Mencari Solusi, pilihan ditangan anda.
🦆............<>............🦅

Semangat Pagi
(ELANG atau BEBEK kah anda yang sedang membaca WhatsApp ini ??)

Jawabanya adalah:
PILIHAN ANDA

Be greathfull...

Jumat, 20 Oktober 2017

Ketiadaan

Awalnya Aku adalah keTiadaan..
.
Karna keMurahan Tuhan,,
di jadikanlah Aku adalah Ada......
Namun belum dapat di sebut.
.
Kemudian Aku di perjalankan...
Lalu, jadilah Aku setetes Air mani...
Kemudian aku berubah menjadi Seegumpal darah..
Yang kemudian Aku menjelma Janin ..
.
Perjalananku masih panjang.
Aku pun harus menjadi bayi,
lalu mendewasa..
Untuk belajar menjadi manusia ...
.
Kini aku adalah manusia..
.
Masih dalam keMurahan Tuhan,
aku tetap mengandalkan Kemurahan Tuhan...
.
Walau ku Berlum tahu , jadi apakah aku di perjalan berikutnyaa..
.
Kembali ke Ketiaadan..
Ataukan aku jadi Sang Juara yaang memenaangkan ILAHI ROJIUN..

Kamis, 19 Oktober 2017

Bagaimana caranya perjalanan spiritual itu dilakukan? (Lanjutan)


Jawaban Versi ke empat :

Anand Krishna, dalam buku karangannya “Haqq Moujud”, menjelaskan bahwa ada tujuh anak tangga menuju Tuhan. Biasakan bicara dengan lembut, setiap hari sisihkan waktu bagi dirimu sendiri dalam keheningan, belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang, sayangi mereka yang berbuat jahat kepadamu, bukalah hatimu bagi segala sesuatu yang baik, hindari lingkungan dan persahabatan yang tidak menunjang evolusi bathin dan terakhir, hargai segala sesuatu, tetapi janganlah terikat pada sesuatu. Keterikatan hendaknya pada yang satu-Allah.

Jawaban Versi Kelima :

Evelyn Underhill 1)menguraikan jalan mistik sebagai jalan yang dilewati oleh salik menuju Illahi, langkahnya sebagai berikut :
– Bangkitnya kesadaran (awakening)
– Pembersihan (purification)
– Penerangan (ilumination)
– Malam gelap jiwa (the dark night state)
– Kesadaran bersatu (the unitive state).

Jawaban versi keenam :

Al Attar, dalam “Musyawarah Burung”, mengungkapkan “Burung-burung itupun akhirnya sepakat untuk mencari Simurgh, tetapi sebelum memulai perjalanannya Hudhud menggambarkan tujuh bukit – melambangkan jalan Sufi menuju kesempurnaan – yang harus dilalui : Pencarian, Cinta, Pemahaman, Kemandirian dan keterlepasan, Kesatuan Murni, Ketakjuban dan akhirnya kefakiran dan kenihilan (kehampaan jiwa).

Akhir dari pengembaraan burung-burung dalam mencari Si-Murgh, setelah selubung akal dari jiwa disingkapkan sepenuhnya dan mereka menemukan Si-Murgh (tiga puluh burung), adalah merupakan refleksi dari Sang Raja.

Pada awalnya penemuan transformasi kesadaran, yaitu proses identifikasi dengan objek pencarian, membuat mereka takjub, mereka tidak tahu apakah mereka masih merupakan diri mereka atau apakah mereka telah menjadi Si-murgh.

Dan jika mereka melihat kedua-duanya secara bersama-sama, keduanya adalah Simurgh, tidak kirang dan tidak lebih. Yang ini adalah itu, dan yang itu adalah ini”.

Jawaban Versi ketujuh,

Al Ghazali dari kitabnya yang lain :Al Ghazali, mengungkapkan di dalam kitab Al Munkid Min Al Dzalal “Sungguh jalan ini tidak bisa diikuti kecuali dengan ilmu dan amal, yang harus menempuh tanjakan-tanjakan ruhani dan membersihkannya dari ahlak-ahlak tercela dan sifat jahat. Sedemikian sehingga, hati menjadi kosong dari selain Allah, kemudian mengisinya dengan dzikir.
Bagiku, ilmu lebih mudah daripada amal. Aku pelajari kitab-kitab sufi terdahulu, sehingga aku paham secara ilmiah. Penjelasan lebih dalam aku ikuti dan aku dengar dari uraian mereka. Tampak, pada posisi tertentu, perjalanan tasawuf ini tidak bisa ditempuh dengan belajar dari ilmu, tetapi dengan dzauq (fruitional experience), hal dan kebersihan hati. Tentu berbeda orang yang kenyang dengan orang yang tahu pengertian kenyang.

Masih banyak perjalanan sufi yang lain, seperti Al Jilli, Ibn Arabi, Al junaed, atau yang dari negeri sendiri, Syech Siti Jenar, Hamzah Fansuri, ekspresi antara satu sufi dengan sufi yang lainnya sungguh berbeda.

4. Kapan sebaiknya perjalanan spiritual ini dilaksanakan?

Sekarang ini, bahkan sejak saat baru lahir..

Bagaimana caranya perjalanan spiritual itu dilakukan? (Lanjutan)


Jawaban Versi kedua :
Seseorang mesti bebas untuk bisa sepenuhnya menjadi
cahaya bagi dirinya sendiri. Cahaya bagi diri sendiri!
Cahaya ini tidak bisa diberikan oleh orang lain, Anda
juga tidak bisa menyalakannya pada lilin yang lainnya.
Jika Anda menyalakannya pada lilin yang lain, itu
hanya layaknya sebatang lilin, ia bisa tertiup mati
dengan mudah. Penyelidikan untuk mencaritahu apa arti
dari menjadi cahaya bagi diri sendiri merupakan bagian
dari meditasi.

Jawaban Versi ketiga :

Al-Ghazali dalam Kitab Ajaaibul Qulub[5] jelas membedakan istilah-istilah seperti qalb (rasa jiwa, bukan rasa jasadiah/psikis), nafs, ruh, dan ‘aql; dimana istilah-istilah ini dalam konsepsi psikologi modern tak terpetakan dengan tegas karena berada pada tataran jiwa yang bersifat malakut, atau secara psikologi analitik berada di ruang ketaksadaran.

Prinsipnya, apa yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil) dalam terminologi Al-Qur’an, minimal manusia yang sudah memiliki struktur seperti tercantum dalam An-Nur [24]: 35, seorang Insan Ilahi. Manusia dikatakan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi jika ia telah mencapai state tersebut, ia membawa kuasa Allah dan bercitra Ar-Rahman.

Ayat tersebut mengisyaratkan tentang manusia, dimana di dalam jasad (misykat)-nya terdapat nafs (jiwa) yang qalb (zujajah)-nya bercahaya seperti bintang karena telah dinyalakan dari dalam dengan api Ruh al-Quds (misbah). Adapun misykat sifatnya kusam dan tak tembus pandang, sebagai perlambang jasad yang berasal dari alam mulk (ardhiyah), merupakan manifestasi terendah dari kehadiran Al-Haq dalam alam syahadah.

Rasulullah SAW menyinggung tentang eksistensi jiwa (nafs) yang qalbnya telah diperkuat oleh api Ruh al-Quds, sebagai berikut:

“Qalb itu ada empat macam, pertama, qalb yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bersinar cemerlang, itulah qalb al-mu’min; kedua, qalb yang hitam terbalik, itulah qalb orang kafir; ketiga, yang terbungkus dan terikat pada bungkusnya, itulah qalb orang yang munafik; dan keempat, qalb yang tercampur, di dalamnya terdapat iman dan nifaq.”

“Dialah yang telah menurunkan as-sakinah ke dalam qalb orang-orang al-mu’min, agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada” (Al-Fath [48]: 4).
“Barang siapa memiliki juru-nasehat dari dalam qalbnya, berarti Allah telah memberi seorang penjaga (hafidh) atasnya” (Rasulullah SAW).

Qalb menjadi hitam dan terbalik jika ia mempertuhankan hawa nafsu, mengingkari dan mendustakan kebenaran (al-haq). Hati yang seperti ini akan memandang bagus atas segala yang mereka kerjakan, karena tertutup ilusi dan waham syaithan. Adapun qalb si munafik terikat pada bungkus jasadiyah, merupakan qalb yang terlalu mencintai dunia (terikat kepada syahwat jasmaniah); pandangan batinnya tertipu oleh nilai-nilai estetik fisik dengan tanpa melihat hakikatnya, maka ia bisa ‘menjual’ agamanya demi kesenangan sesaat.

Seperti telah diulas tadi, bahwa si nafslah yang menjadi fokus pendidikan Ilahi. Alam dunia ini bagi nafs sebenarnya hanya sebuah jenjang ’sekolah dasar’, Rasulullah SAW berkata bahwa alam dunia ini hanyalah sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua alam besar, dan si nafs diuji dalam pengembaraannya di ‘oase’ ini; sementara ia harus menyelesaikan sejumlah jenjang ’sekolah lanjutan’ lagi. Di alam dunia, jasad atau raga insan berperan sebagai kendaraan bagi si nafs untuk menemukan al-haq di bumi jagat ini sebagai pelajaran pertamanya. Si nafs harus mengembara di muka bumi hingga terbuka kepadanya malakut langit, atau hakikat dari segala yang wujud (khalq) di alam syahadah, dan hakikat dari setiap khalq adalah al-haq.

“Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk (semesta) dan di dalam nafs masing-masing, hingga jelaslah bagi mereka itu bahwa itu adalah al-haq” (Al-Fushshilat [41]: 53).
“Tiap segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya” (Al-Qashash [28]: 88).

Sebelum memahami bahwa Dia ada di mana-mana dan Dia lebih dekat dari urat leher, maka si nafs harus melihat kepada aspek wajah-Nya berupa Al-Haq; ia harus melihat bahwa hakikat dari segala sesuatu di alam semesta, berupa ayat-ayat Kauniyyah, adalah al-haq; juga hakikat dari apa yang ada di dalam nafs-nya tak lain adalah al-haq yang mengalir dari Martabat Ilahi. Sebelum si nafs dimasukkan ke dalam kurungan jasad (corpus) janin di dalam rahim ibu, maka si nafs dipanggil terlebih dulu ke hadapan Allah SWT, katakanlah ini adalah status nafs ketika di alam Nur atau alam Alastu.

“Dan ketika Rabb-mu hendak mengeluarkan keturunan bani Adam dari sulbi mereka, dan Allah telah mengambil kesaksian atas nafs-nafs mereka, ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ mereka menjawab ‘Benar! Kami menyaksikan’ Agar di hari kiamat kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami lengah (atas kesaksian) ini’” (Al-Araf [7]: 172).

Sebelum nafs diturunkan di alam dunia, maka dalam kesaksian ini qadha dan qadarnya ditetapkan terlebih dahulu: “amal-amal insan dikalungkan pada ‘leher’nya” (Q.S Al-Isra’ [17]:13). Ketetapan-ketetapan ini berupa misi hidup (swadharma) yang harus dimanifestasikan di muka bumi, ini merupakan amanah Allah yang telah digariskan sesuai dengan bakat langit si nafs (swabhawa), misi hidup setiap insan bersifat unik tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Misi (dharma) si nafs harus ditemukan dan dijalankan di bumi ini, tidak ada perubahan dalam dharma si nafs, karena bakat langit (swabhawa) si nafs merupakan fitrah yang tidak berubah, dan sebagian besar manusia tidak mengetahui ketetapan dirinya karena qalb-nya terpendam dosa.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-Din. Fitrah Allah, yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah ini, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Inilah ad-Diin yang teguh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ar-Ruum [30]: 30).

Jika tanpa Rahmat Allah SWT, ketetapan-ketetapan Allah yang tertulis di dada si nafs tidak akan terbuka, dan ini merupakan rizqi batin manusia yang kuncinya ada di dalam nafs. Sementara untuk mencapai ini sulit karena harus menggeser pusat kesadaran dari ego ke nafs (self).

Dari alam Nuur, setelah 120 hari penyusunan janin bayi, maka nafs yang telah diamanahi qudratullah beserta ruh yang akan mengisi jasad si bayi diturunkan. Di sini si nafs berada dalam tiga kegelapan.
“Kemudian Dia menyempurnakan (janin), dan meniupkan kedalamnya ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagimu, pendengaran, penglihatan, dan fu’ad, tapi sedikit di antara kamu yang bersyukur” (As-Sajdah [32]: 9).

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu tahap demi tahap dalam tiga kegelapan” (Az-Zumar [39]: 6).
Bagi si nafs sewaktu masih di dalam rahim, kegelapan pertama adalah wadah jasadnya sendiri, lapis kegelapan kedua adalah jasad ibunya, dan kegelapan ketiga adalah penjara alam dunia yang bersifat material.

Ego dibentuk dan ditumbuhkan melalui fikiran oleh dua kekuatan, pertama persepsi inderawi yang bersifat syahwati, dan kedua oleh hawa nafs. Interaksi timbal balik dua kekuatan ini melalui link ego menjadi cenderung memperkuat satu sama lain dan membangun kompleks-kompleks sayyi’ah jiwa. Manusia digelapkan qalb-nya dan dilumpuhkan nafs-nya oleh dua perkara yaitu cinta dunia dan mempertuhankan hawa.

“Berkata ia,’Ya Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu (di dunia) adalah seorang yang melihat?’” (Thaha [20]: 125).

“Karena sesungguhnya bukanlah matanya yang buta tetapi qalb yang di dalam dada” (Al-Hajj [22]: 46).

“Yang demikian itu disebabkan oleh karena mereka mencintai kehidupan dunia di atas akhirat… Mereka itulah yang qalb, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka adalah orang-orang yang lalai” (An-Nahl [16]: 107-108).

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawanya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain bagaikan ternak bahkan lebih tersesat jalannya” (Al-Furqaan [25]: 43-44).

“Dan barang siapa buta di dunia ini, maka di akhirat akan buta pula dan lebih tersesat jalannya” (Al-Isra [17]: 72).

Bila nafs dirahmati Allah Ta’ala, maka secara bertahap indera-indera batinnya mulai bangun dan menguat, karena hijab-hijab dosa di qalb-nya mulai tanggal. Si nafs yang telah tumbuh kuat akan segera melakukan proses penggembalaan dan pendidikan atas tentara lahir dan tentara batinnya.

“Dan adapun mereka yang takut akan maqam Rabb-nya dan menahan nafsnya dari hawa” (An-Naazi’at [79]: 40).

Jika ego tidak dikonstruksi-baru oleh nafs, maka akan menjadi pabrik penghasil sayyiah, dimana ‘racun’ hati ini secara efektif dapat mematikan qalb. Kesadaran, secara psikologis, berpusat di ego, sementara qalb dan nafs berada di bawah level kesadaran atau di ketaksadaran (unconsciousness).

Jika cahaya qalb tidak menyentuh ego dan pikiran, maka pada hakikatnya manusia belum mengenal qalb-nya apalagi memfungsikannya. Karena qalb tak berfungsi, maka manusia tersebut dikatakan belum memiliki qalb (buta hati) kecuali hati jasmaniahnya saja, dan hanya memiliki satu akal yaitu pikirannya saja.

“Mereka memiliki qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami, mereka memiliki mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakannya untuk mendengar, mereka seperti ternak bahkan lebih tersesat” (Al-A’raf [7]: 179).

Dengan transformasi akal dari ego ke lubb, maka kesadaran seseorang ditransformasi terus-menerus hingga menyentuh Lathifah Ilahiyah, sehingga qalb-nya “melihat” al-haq dimana-mana (Al-Fushshilat [41]: 53). Dalam dunia tashawwuf, hirarki ‘uruj kesadaran batin mencakup tujuh proses

Dalam proses ini, tahapan insan untuk memenuhi struktur yang dituntut oleh An-Nuur [24]: 35 menjadi terlampaui. Ini adalah proses manusia untuk mengenal Rabb-nya, yang harus diawali dengan kesadaran atas keberadaan nafs dalam jasadnya sebagai jati diri yang sebenarnya.

“Barangsiapa mengenal nafsnya maka akan mengenal Rabb-nya.” (Rasulullah SAW)

Dengan bermujahadah pada proses tazkiyyatun-nafs maka instrumen mata dan telinga batin (nafs) akan mulai bangun secara bertahap. Seperti bangunnya akal jasadi pada bayi oleh tumbukan terus menerus citra alam dunia melalui indera mata dan telinganya, maka pengendalian mata dan telinga jasmani dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala akan mencergaskan kembali penglihatan dan pendengaran si nafs, dan dengan sehatnya dua indera batin tersebut akan mulai mengaktivasi akal jiwa (lubb). Manusia yang lubb-nya hidup dinamai sebagai Ulul-Albaab, dan hanya Ulul-Albaab yang bisa memahami kalimah Ilahiyah di alam semesta.

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali Ulul-Albaab” (Al Baqarah [2]: 269).

Proses ‘uruj tadi merupakan proses taubat, dimana makna taubat adalah perjalanan kembali menuju Allah, merupakan proses ditariknya si hamba mendekat kepada-Nya, dan ini akan melampaui semesta alam-alam, karena jarak antara si hamba dengan Dia adalah tak hingga. Dan tidak ada alam yang ia lampaui, kecuali lubb-nya akan menguasai urusan-urusan di alam tersebut. Siapa yang bertaubat (kembali kepada Allah) maka itu baru awal dari hidayah (pemberian petunjuk), dan siapa yang tidak mencari Allah (tidak bertaubat) maka mendzalimi dirinya sendiri.

“Dialah yang memperlihatkan kepadamu ayat-ayat-Nya dan menurunkan kepadamu rizki dari langit (jiwa). Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang bertaubat(kembali).” (Al-Mu’min [40]: 13)

“Dan sesungguhnya Aku menjadi Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, kemudian atasnya petunjuk” (Thaha [20]: 82).

“Siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (Al-Hujurat [49]: 11).
Pikiran yang tak jernih bisa mematikan qalb, dan jika qalb mati berarti qalb kehilangan Cahaya Jabarut-nya dan ini berdampak lumpuhnya si nafs dalam diri manusia. Jika nafs dalam diri manusia lumpuh maka lumpuh pula kekuatan amr dalam dirinya, sehingga aksi fungsi transenden ke ruang kesadaran tidak terjadi. Orang yang sehat qalb-nya dari dosa-dosa dan penyakit hati akan sehat pula nafs-nya, dan jika si nafs sehat ia akan membimbing raga untuk menemukan obat bagi penyakit fisiknya, dan ini perlu waktu:
“Barang siapa sehat qalb-nya maka akan sehat jasmaninya” (Rasulullah SAW).

Dengan mengerjakan misi hidupnya atau qudrah dirinya (dharma yoga) maka qalb orang itu terselamatkan dari penyakit fikiran, dan jika qalb selamat (qalbun salim) ia akan ‘melihat’ Tuhannya. Kata Al-Ghazali, satu-satunya perangkat dalam diri manusia untuk ber-ma’rifatullah adalah qalb-nya. Qalb adalah rasa si jiwa (nafs) dan bukan rasa psikis (emosi) yang dapat tersentuh oleh observasi psikologis, ia adalah makhluk ruhani. Lebih jauh Al-Ghazali berkata bahwa jika seseorang tidak mengenal qalb-nya maka tidak akan mengenal nafs-nya; jika nafs tidak dikenal maka dharma tak dikenal; jika dharma tak dijalankan maka terputus jalan untuk menuju Sang Pencipta; dan jika ia terputus jalan maka kesadarannya tidak akan melampaui alam-alam, sehingga kebijakan-kebijakan Ilahi dalam kehidupan semesta tak terpahami (oleh akal bawahnya). Maka dikatakan Allah SWT bahwa hanya Ulul-Albaab (orang yang memiliki akal jiwa/lubb) yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, dan lubb itu tidak menyala jika cahaya qalb padam.
Inteligensia atau kecerdasan fisik kekuatannya hanya menyentuh sejauh alam fisik. Jika kita mencoba menggunakan kecerdasan fisik untuk menggeneralisasi atau menginduksi imajinasi ke alam malakut, maka hal ini seperti nasib elemen-elemen vektor yang jika dioperasikan bagaimanapun dengan hukum-hukum ruang vektor, tidak akan melompat keluar dari ruang vektornya. Akibatnya “pantai yang lain” selalu tak diketemukan. Kecerdasan ‘bawah’ hanyalah bayangan dari kecerdasan jiwa (kecerdasan ‘atas’) yang mestinya bisa dilahirkan dengan jalan mujahadah dalam tazkiyyatun-nafs.

Al-Quran menyinggung ihwal pertumbuhan pribadi insan hingga baligh-nya dan ihwal usia 40-tahunan, dimana manusia sudah harus melakukan proses taubat (Al-Ahqaaf [46]: 15). Dengan proses taubat maka fitrah insani dalam arti yang haqiqi akan terbuka (Ar-Ruum [30]: 30-31), dimana fitrah ini terkait dengan persoalan swabhawa-swadharma dan qadha-qadar, dan ini terletak di nafs manusia yang harus direalisasi.

Jika manusia melupakan Allah SWT, atau menomorduakan urusan Tuhannya, maka Dia akan membuat si manusia tersebut lupa akan nafsnya (Al-Hasyr [59]: 18-19), dan lumpuhlah si nafs itu dari berkata-kata (nathiqah) ihwal fitrah dirinya padahal kesaksian tentang perkara “misi hidup” ini telah diambil si nafs sebelum ia dimasukkan ke rahim ibu (Al-’Araaf [7]: 172).

Aspek olah jiwa (suluk) atau dimensi batin dari agama-agama sebenarnya untuk tujuan transformasi dari “arah dalam,” mengubah sayyi’ah-sayyi’ah menjadi hasanah-hasanah (Al-Furqaan [25]: 70-71). Apa yang disebut dengan kecerdasan, di tingkat apapun merupakan produk dari transformasi-transformasi diri, terutama transformasi jiwa. Dalam konsep Al-Qur’an, kecerdasan seseorang dalam suatu lingkup dharma berbanding lurus dengan tingkat kesucian jiwa yang diperoleh lewat jalan taubat (Al-Mu’min [40]: 13). Jika jiwa tumbuh maka akal jiwa (lubb) akan tumbuh juga, sehingga hiduplah akal luar dan akal dalamnya, sejalan dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW:

“Tiap-tiap sesuatu bekerja menurut caranya (orbitnya) masing-masing, maka Rabbmu mengetahui siapa-siapa yang terpimpin jalannya (huwa ahda sabiila). Dan mereka bertanya kepadamu ihwal Ar-Ruh, katakanlah bahwa Ar-Ruh itu dari amr Rabbku, dan tidak kamu diberi pengetahuan tentang ini kecuali sedikit” (Al-Israa [17]: 84-85).

Dari ayat di atas, jelas bahwa aspek Ar-Ruh atau Ruh Al-Quds (Holy Spirit) dihubungkan dengan orbit diri atau misi hidup tiap-tiap insan yang unik satu sama lain. Dan rahasia dari Ar-Ruh ini terletak di nafs, dan seperti Al-Ghazali katakan bahwa jika qalb tak dikenal maka nafs tak dikenal. Siapa yang seolah-olah melupakan Allah, maka Allah buat dia lupa akan nafsnya, sehingga tertutuplah jalan untuk mengenal Dia. Barang siapa tidak mengenal nafsnya maka ia tidak akan mengenal Tuhannya.

Bagaimana caranya perjalanan spiritual itu dilakukan?


Jawaban Versi Pertama :

Oleh Idries Shahh, “Mahkota Sufi, Menembus Dunia Ekstra Dimensi”

Tujuh Diri (Nafsu)
Pengembangan diri di Jalan Sufi mensyaratkan Salik untuk melampaui tujuh tahap persiapan, sebelum individualitas siap menunaikan tugasnya secara utuh. Tahap-tahap itu yang kadangkala disebut “manusia”, adalah tingkatan dalam transmutasi kesadaran, istilah teknis untuk nafs, jiwa. Pendek kata, tahap-tahap perkembangan itu, masing-masing memungkinkan kekayaan batin lebih lanjut di bawah bimbingan seorang guru praktis, adalah:
1. Nafs al-ammarah (nafsu merusak, menguasai diri)
2. Nafs al-lawwamah (nafsu tercela)
3. Nafs al-mulhimah (jiwa yang rakus)
4. Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang)
5. Nafs ar-radiyah (jiwa yang tulus)
6. Nafs al-mardiyah (jiwa yang terbebaskan)
7. Nafs ash-shafiyah wa kamilah (jiwa yang suci dan sempurna).
Nafs disyaratkan melalui proses yang diistilahkan “kematian dan kelahiran kembali”. Proses pertama, yaitu Mati Putih menandai tingkat perkembangan awal murid, ketika ia mulai membangun kembali nafs spontan dan emosional, sehingga hal ini selanjutnya akan menyediakan suatu sarana untuk menjalankan kegiatan kesadaran, yaitu nafs kedua. Sifat-sifat jiwa “tenang, terbebaskan”, dan sebagainya, mengacu pada dampak terhadap individumaupun kelompok dan masyarakat secara umum, dan berbagai fungsi yang sangat jelas pada setiap tahap.
Fenomena penting dari tujuh tahap dalam latihan-latihan Sufi itu adalah sebagai berikut:
1. Lepas kendali diri, mempercayai diri sebagai personalitas koheren, mulai belajar bahwa ia mempunyai berbagai kemampuan personal, sebagai individu yang berkembang. 2. Permulaan kesadaran diri dan “penentuan”, dimana pemikiran secara spontan melihat apa itu kesadaran diri.
3. Permulaan integrasi mental, ketika jiwa mempunyai kemampuan memasuki tahap yang lebih tinggi dibandingkan kebiasaan sebelumnya.
4. Kedamaian, keseimbangan individualitas.
5. Kemampuan melakukan tugas, tahap pengalaman baru yang tidak bisa dideskripsikan di luar analogi yang sejalan.
6. Aktivitas dan tugas baru, termasuk di luar dimensi individualitas.
7. Pemenuhan tugas rekonstitusi, kemampuan mengajar orang lain, daya bagi pemahaman obyektif
Unsur-unsur Sufisme
Sepuluh Unsur Sufisme mengacu pada kerangka kerja individual, dimana sebagai Salik, ia menggali potensi untuk bangun atau hidup dalam dimensi yang lebih agung dan berada di luar pengalaman biasa. Al-Farisi mencatatnya sebagai berikut:
1. Pemisahan dari kesatuan.
2. Persepsi pendengaran.
3. Persahabatan dan asosiasi.
4. Preferensi yang benar.
5. Penyerahan pilihan.
6. Pencapaian secara cepat “keadaan” tertentu.
7. Penetrasi pemikiran, pengujian diri.
8. Perjalanan dan gerakan.
9. Kepasrahan dalam menerima rezeki.
10. Pembatasan keinginan atau ketamakan.
Latihan dan pelatihan Sufi berdasar pada Sepuluh Unsur ini. Sesuai dengan kebutuhan murid, guru akan memilihkan program-program studi dan tindakan untuknya dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk melaksanakan berbagai fungsi yang terangkum dalam Unsur-unsur itu. Oleh karena itu, faktor-faktor ini adalah dasar persiapan individu menuju perkembangan dimana apabila ia tidak bisa mengalami atau merasakan, ia dibiarkan mencapainya sendirian.

Zikir Nafas dan Sadar Nafas dalam Pandangan Spiritualitas Islam

  Zikir nafas adalah salah satu bentuk dzikir yang dilakukan dengan menyatukan kesadaran, lafaz dzikir, dan irama nafas. Praktiknya adalah d...